Iran: Selat Hormuz tetap tertutup sampai AS menerima rencananya, sementara G7 dan Eropa melepas cadangan minyak
Perunding utama Iran berkata pada 4 Oktober bahwa Selat Hormuz tetap tertutup sampai AS menerima rencana tujuh hari Teheran (Al Jazeera, Fox News). Pada 3 Oktober CBS melaporkan Trump menolak syarat Iran, dan Menhan Pete Hegseth menyebut blokade AS atas pelabuhan Iran 'ironclad'. Rencana itu diajukan Abbas Araghchi pada 25 September lewat Qatar; laporan menyebut gencatan senjata tujuh hari, pencairan aset yang dibekukan dan berakhirnya blokade (SCMP, Arab News). Pada Jumat 2 Oktober Brent ditutup US$102,25 (−0,06%) dan WTI US$91,11 (−1,90%), setelah negara Uni Eropa menyetujui pelepasan sekitar 50 juta barel solar (Kabar Bursa). Pemimpin G7 sepakat melepas 100 juta barel dalam empat bulan (Investortrust).
Sekitar seperlima minyak dunia lazim melewati selat itu, jadi penutupan menjaga harga tinggi. Pelepasan cadangan hanya menambah pasokan sementara dan tidak menyelesaikan persoalan struktural, kata analis yang dikutip RCTI+.
Harga minyak di atas US$100 menekan neraca impor BBM Indonesia dan rupiah, dan bisa menekan anggaran subsidi energi. Dampak ke harga BBM tidak otomatis, karena pemerintah menentukan harga eceran.
Pelepasan cadangan dan diplomasi lewat penengah menunjukkan negara-negara besar berusaha meredam harga sambil membuka jalan keluar.
Selama selat tertutup dan blokade bertahan, pelepasan cadangan hanya membeli waktu, dan perundingan yang mandek bisa menaikkan harga lagi.
Soal pasokan bukan soal satu hari: 100 juta barel dalam empat bulan lebih kecil dari gangguan yang berlarut. Pantau tiga hal: balasan Iran atas masukan AS, apakah blokade berubah, dan apakah Brent bertahan di atas US$100.
DailyDrop Edisi Indonesia No. 1 · Edisi Pagi · Sen, 5 Okt 2026