Pasar · Indonesia · Pers ✓ 4 media

IHSG naik 0,46% ke 6.036,88 pada Jumat tetapi anjlok 3,28% dalam sepekan; rupiah menguat ke Rp17.882

IHSG ditutup naik 27,38 poin atau 0,46% ke 6.036,88 pada Jumat 2 Oktober, dibuka di 6.018,08 dengan puncak 6.053,23 (Viva). Indeks sempat turun di bawah 6.000 pada sesi pertama. Dalam sepekan IHSG turun 3,28% dari 6.241,892 (JawaPos, Sumbar Bisnis). Investor asing net sell Rp1,27 triliun pada hari itu dan Rp82,55 triliun sepanjang 2026; rata-rata volume harian naik 72,51% ke 50,37 miliar saham (JawaPos). Rupiah ditutup di Rp17.882, menguat 84 poin atau 0,47% dari Rp17.966 (Bloomberg via Kontan dan Suara.com), dan naik 0,12% dalam sepekan. JISDOR Rp17.898. Faktor yang disebut: turunnya imbal hasil obligasi AS, intervensi Bank Indonesia dan melemahnya taruhan kenaikan bunga The Fed.

Rupiah mendekati Rp18.000 dan bursa jatuh lebih dari 3% dalam lima hari, jadi pasar sedang rapuh. Rupiah lemah menaikkan biaya impor dan utang valuta asing, dan arus keluar dana asing menekan harga saham.

Bila Anda berbelanja barang impor atau punya cicilan dolar, pergerakan kurs memengaruhi harga. Investor ritel sebaiknya tidak membaca kenaikan sehari sebagai pembalikan arah.

Kenaikan Jumat dan rupiah yang menguat menunjukkan pasar mulai tenang setelah data tenaga kerja AS yang lemah menurunkan tekanan bunga.

Pekan yang turun 3,28% dan asing yang terus menjual menunjukkan kepercayaan belum pulih, dan intervensi tidak bisa dilakukan tanpa batas.

Dua fakta bertentangan hidup berdampingan: hari yang hijau dan pekan yang merah. Pantau apakah net sell asing mereda dan apakah rupiah bertahan di bawah Rp18.000 tanpa intervensi besar. JawaPos menulis rupiah berpotensi menembus Rp18.000, tetapi itu prakiraan.

DailyDrop Edisi Indonesia No. 1 · Edisi Pagi · Sen, 5 Okt 2026

Baca halaman depan hari ini →